Aki Somad Sampai Hari Ini Belum Merdeka Agustus 17, 2007
Posted by [irwan] in Family & Friends, Our Topics.2 comments
Sudah enambelas tahun saya tidak pernah berada di kampung halaman lebih dari 2 minggu. Setiap pulang hanya tinggal dua sampai tiga hari, paling lama sepuluh hari, itu juga belakangan setiap dua tahun sekali saat lebaran, karena harus selang seling satu tahun berlebaran di Jogja dan satu tahun berlebaran di kampung.
Maka saya sudah hampir lupa sosok Aki Somad. Kakek tua yang dulu waktu saya SD, setiap menjelang tengah hari selalu lewat di depan rumah. Setiap hari Aki Somad pulang dari kebunnya di lereng bukit sana, dengan memikul empat batang bambu berisi air nira.
Aki Somad adalah pembuat Gula Merah, pagi hari selepas sholat subuh sudah berangkat ke hutan untuk memasang potongan bambu (sunda=lodong) di puncak pohon Nira (sunda=kawung) untuk menampung tetesan nira. Setelah mengurus ladangnya yang tak seberapa luas, menjelang siang Aki Somad turun ke kampung sambil memikul nira.
Saya masih ingat, Aki Somad selalu numpang duduk melepas lelah di teras rumah kami. Dan tak pernah terlewat memberikan satu batang bambu berisi nira hasil jerih payahnya untuk keluarga kami. Niranya sangat manis dan segar diminum siang saat panas terik, Dan Aki Somad akan sangat kecewa apabila kami menolak pemberiannya.
Kami sangat kasihan padanya, dia sudah renta, tiga batang bambu berisi nira — setelah satu batang diberikan untuk kami — hanya menghasilkan sedikit gula setiap harinya. Namun Aki Somad selalu menjalani hidupnya dengan suka cita dan sederhana. Di rumahnya yang sempit ditemani Nini Irah, nenek yang wajahnya selalu bersinar dengan senyuman.
Aki Somad hidup dalam kemiskinan, tanpa seorang pun anak yang bisa membahagiakannya, paling tidak mengurusnya dikala hari tua. Di usianya yang sudah sangat tua Aki Somad masih bekerja keras untuk hidup. Lebaran tahun lalu, menurut Ibu saya, Aki Somad sudah sangat tua dan sakit-sakitan, namun masih pergi ke hutan mengambil nira.
Aki Somad adalah sahabat kakek saya, termasuk sahabat seperjuangan dulu. Menurut kakek, Aki Somad adalah pejuang yang pemberani, lihai bergerilya, dan berulang kali ditangkap Belanda dan disiksa. Aki Somad punya andil besar dalam kemerdekaan bangsa ini, namun dikala banyak rakyat yang menikmati kemerdekaan dan hasil perjuangan orang-orang seperti Aki Somad, Aki Somad sendiri masih berada dalam hidup yang serba kekurangan dan harus bersusah payah menjalani hidup dalam masa tuanya.
Piagam “Rumah Pejuang Kemerdekaan 45″ dari pemerintah yang tertempel di dinding anyaman bambu rumahnya, tidak merubah apa-apa dalam hidupnya. Hari ini, saya tidak tahu apakah Aki Somad masih hidup atau tidak. Dan mungkin tak seorang pun peduli akan hal itu.

Selamat Jalan Bapak Presiden Juli 12, 2007
Posted by [irwan] in Family & Friends, Our Topics.5 comments
Maut adalah rahasia Tuhan. Bisa menghampiri siapa saja dan kapan saja. Kemarin malam (11/7) sekitar pukul 21.30 WIB telah meninggal dunia dalam kecelakaan di Jalan Raya Yogyakarta-Purworejo, Jateng, Bapak Presiden Republik BBM, Taufik Savalas atau Mochammad Taufik. Sebelumnya almarhum sempat makan malam di warung bakmi yang juga favorit saya di Alun-alun Kidul Jogja.
Kita semua sangat berduka. Semoga arwah dan amal ibadahnya diterima disisi-Nya. Amin.

Kami Berhasil Membuat Presiden RI Marah Juni 30, 2007
Posted by [irwan] in Our Topics.9 comments
Para undangan yang hadir mengira tarian cakalele kami adalah bagian dari acara. Bagus, sesuai rencana. Aku lihat aparat Paspampres mulai kasak-kusuk dengan panitia, mereka menyadari harus segera menghentikan aksi kami. Aku segera merogoh bendera kami, RMS, dari dalam celana untuk dibentangkan sebelum melarikan diri.

Gempa! Selamatkan Diri, Istri atau Anak Dulu? Mei 27, 2007
Posted by [irwan] in Our Topics.2 comments
Hari ini, Jogja jam 5.55 pagi setahun yang lalu. Saat gemuruh suara bumi yang membahana dan bergerak-gerak dahsyat kesegala arah,saat itu desir hati semua orang tertuju pada satu hal yang sama: Keluarga. Tatkala dinding-dinding rumah berguguran, disela derak suara benda-benda hancur, diantara serpihan atap yang berjatuhan, bayangan wajah-wajah anggota keluarga hadir bergantian.
Ibu yang sedang di dapur, si bungsu yang masih terlelap di kamar sebelah, adik yang sedang mandi, bapak yang semalam tiduran di sofa, istri sedang memeluk bayi tidur, suami yang masih terlelap, nenek, adik ipar, paman, anak, semua yang saat itu hampir semua masih tertidur.
Setelah gempa dan gemuruhnya berhenti, sesaat berganti sunyi, lalu pecah jerit pilu dan tangisan serta teriakan dari semua arah. Seorang ayah merintih kesakitan dibawah reruntuhan dinding, disebelah jasad putri kecilnya. Dekat pintu kamar, tak jauh didepannya, sang istri terbujur dalam nafas terakhirnya. Dan bayi mereka, bayi mereka, disuatu tempat diantara puing-puing kamar. Ribuan nyawa kala itu kembali ke Maha Pencipta.
Apa yang Anda lakukan saat bencana itu terjadi?
Tidak akan pupus dari ingatan saya, saat saya dan istri berebut sosok mungil si kecil, dan kemudian berebut membuka kunci pintu. Beberapa kali terjatuh diatas tanah yang bergoyang, diantara pagar tembok rumah yang hancur berantakan.
Bagi saya saat itu saya adalah bukan pilihan. Pilihan saya adalah antara Istri dan Anak. Bagaimana dengan Anda?
Laptop dari Tukul, Unyil, ke Anggota DPR Maret 27, 2007
Posted by [irwan] in Our Topics.32 comments
Anggota DPR: “Mba, laptopnya salah.”
Customer Service: “Salah gimana pak?”
Anggota DPR: “Laptopnya nggak mau hidup.”
CS: “Sudah tekan tombol power pak?”
Anggota DPR: “Tombol powernya sebelah mana mba?”
Kembali ke Laptop. Akhirnya rencana bagi-bagi lapotop dengan total anggaran 12 Milyar untuk 550 Anggota Dewan dibatalkan. Saya sebetulnya mendukung pengadaan laptop tersebut, paling tidak apabila dipergunakan dengan baik dapat mendukung kinerja mereka. Saat sidang anggota dewan yang terhormat bisa browsing atau bahkan blogging daripada tidur seperti selama ini.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Tukul, ini usulannya sudah sejak lama karena saya membidangi Badan Urusan Rumah Tangga,” Zaenal Ma’arif, Wakil Ketua DPR.
Ya, sebab saat ini Si Unyil saja sudah punya laptop.

Downer disambut Ledakan Garuda Maret 7, 2007
Posted by [irwan] in Our Topics.1 comment so far
Pagi ini saat perjalanan ke kantor saya beberapa kali meminggirkan kendaraan karena banyak mobil ambulan bolak-balik ke arah bandara. Ternyata sekitar jam 7.00 WIB pagi tadi pesawat Garuda GA-200 rute Jakarta-Yogyakarta meledak dan terbakar saat mendarat di bandara Adisutjipto Jogjakarta.
Diantara penumpang pesawat dikabarkan terdapat ketua umum Muhammadiyah bapak Din Syamsuddin dan staf kedutaan Australia yang akan mendampingi Menlu Australia Alexander Downer saat berada di Jogjakarta. Belum diketahui penyebab kecelakaan tersebut.
Apakah aksi sabotase? Yang jelas momennya yang bersamaan dengan kunjungan Menlu Downer mungkin ada yang mengkaitkan dengan isu terorisme. Yang jelas bagi pemerintah ini adalah pemikiran lagi untuk mencari kambing hitam baru.

KM Levina: Bencana yang Membawa Bencana Februari 25, 2007
Posted by [irwan] in Our Topics.2 comments
Setelah bencana terjadi tidak dapat dipastikan berakhirnya. Memang bijak nasihat orang tua saya dulu waktu saya kecil, jangan mendekat jika terjadi sesuatu hal kecelakaan atau kemalangan, simpan dulu keingintahuanmu, kadang kala kemalangan berikutnya masih terjadi.
Itu terjadi kepada petugas Labfor Polri dan KNKT yang sedang menyelidiki tenggelamnya KM Levina I, serta para wartawan yang ikut meliput. KM Levina yang sudah hangus terbakar tiba-tiba tenggelam tatkala mereka berada diatasnya. Bahaya memang sulit diprediksi, maka nasihat orang tua saya diatas mungkin ada benarnya. Korban 1 orang dari wartawan Lativi dan 3 orang hilang, 1 wartawan SCTV dan dua orang petugas Labfor Polri.
Karena banyak juru kamera, detik-detik menegangkan tenggelamnya kapal berhasil terrekam beberapa kamera. Salah satu video hasil rekaman juru kamera MetroTV sempat memperlihatkan 2 orang petugas Labfor yang hilang tersebut. Jika mencari siapa yang salah dari kejadian ini, akan kembali kepada diri mereka sendiri.
Menjauhi bencana, salah satu tips untuk terhindar dari bencana.
![]()























