jump to navigation

SMS Ucapan Bulan Puasa dan Lebaran Agustus 27, 2007

Posted by IrwanKarta in Family & Friends.
634 comments

Bulan Ramadhan sebentar lagi tiba. Kita umat Muslim akan merayakan ibadah puasa satu bulan penuh. Siap-siap bangun dini hari, menunda makan dan menjaga perbuatan. Mudah-mudahan kebiasaan di bulan Ramadhan seterusnya bisa dilakukan di bulan-bulan berikutnya. Bangun tidur teratur, makan teratur, dan selalu berfikiran positif.

Tidak lengkap rasanya bagi kita menjalani ibadah puasa apabila belum bermaaf-maafan dengan semua orang yang kita kenal. Untuk berbuat baik, tentu harus diawali dengan hati yang bersih bukan? Semenjak Ponsel dimiliki oleh hampir sebagian orang, SMS merupakan fitur favorit untuk menyampaikan permintaan maaf dan ucapan selamat.

Menjelang Bulan Puasa dan Lebaran, perbendaharaan kata untuk mengirimkan SMS ucapan mau tidak mau harus dimiliki setiap pengguna Ponsel. Apalagi ada yang ngirim ucapan, masa kita nggak balas kan? Berikut beberapa kata-kata ucapan untuk Ibadah Puasa dan Hari Raya Lebaran yang bisa dijadikan template, terutama bagi yang belum bisa kreatif bikin sendiri 🙂

Untuk Ucapan Lebaran kata-kata Ramadhan atau Bulan Puasa bisa diganti dengan kata Lebaran atau Idul Fitri, silahkan dimodifikasi. Bagi yang mau nyumbang ucapan silahkan taruh di komentar, kalau ada ide lagi ucapan ini akan diupdate. Semoga bermanfaat.

Update 30 September 2007: Kirim Ucapan Idul Fitri dengan Gambar melalui E-Mail. Koleksi gambar disini.

Untuk sobat dekat

Aku sadar memang bukan teman yang sempurna untuk kamu.
Kesalahan dan kekhilafan. Selalu saja ada diantara kita.
Terutama aku yang sering ngerepotin kamu.
Met puasa dan Maafkan Lahir Batin.

eLu MeMaNg SoBaT gUe YaNg TeRbAiK
sAmPaI tErKaDaNg GaK kErAsA sEenAkNyA
gUe NgAtAiN lUe n NgEjEkIn Lu SeMaUnYa
MaAfiN gUe BuKaN mAksUd NgErEnDaHiN
jUsTrU kArEnA lUe AdAlAh SePeRtI
bAgIaN dArI dIrI gUe
MeT pUaSa Ya!

Untuk orang tua/ayah/ibu

Ayah dan Ibu sudah menukar seluruh jiwa
semata untuk kebahagian aku
Dan sampai saat ini belum tentu aku bisa
mengganti dengan kebahagian untuk Ayah dan Ibu berdua.
Selamat Beribadah Puasa, Ayah, Ibu
Mohon maaf lahir dan bathin.
Ananda, Irwan di Jogja.

Untuk orang tua/ayah/ibu dalam Bahasa Sunda

Wilujeng Sasih Siam
Kanggo Apa, Mamah sareng Kulawargi di Bumi.
Neda sih hapunten samudaya kalepatan
nu dihaja sinareng henteu.
Mugia ibadahna salawasna aya dina kamulyaan.
Ti Deden, eNeng sareng Anggun di Jogja.

Untuk kenalan kantor/relasi/teman jauh/tetangga

Satu tahun tidak terasa
Ramadhan telah kembali kengunjungi kita
Semoga yang dilalui dan dilakukan
Menjadikan kebaikan di bulan suci ini
Marhaban yaa Ramadhan
Mohon Maaf Lahir dan Bathin
Irwan & Keluarga

Untuk bos/atasan/ atau seseorang yang disegani

Matahari berdzikir, angin bertasbih dan pepohonan memuji keagungan-Mu.
Semua menyambut datangnya Seribu Bulan.
Selamat datang Ramadhan, Selamat beribadah puasa.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.
Irwan sekeluarga, Jogjakarta.

Untuk pacar 🙂

Semua yang kulakukan adalah untuk kebahagianmu.
Segalanya adalah untukmu.
Hanya saja aku bukan lelaki yang sempurna
selalu saja ada kata dan kesalahan
yang mungkin bisa menyakiti hatimu.
Selamat berpuasa sayang, terimalah maafku.
Bersama 1000 cinta, Aa.

Mungkin baru 90 hari kita berpacaran
namun tidak lebih banyak aku bisa
membuat kamu ceria dan bahagia.
Beri aku lebih banyak hari, bulan, bahkan tahun,
untuk dapat lebih membahagiakanmu.
Bersama bulan suci ini, kita rajut kembali
benang-benang pengertian diantara kita.
Aa, lahir dan bathin.

Maaf kalo selama ini aku suka bikin kamu kesal.
Jujur juga, memang aku gak gampang ngertiin kamu.
Tapi aku 100% cinta kamu.
Met Puasa, maafkan aku lahir dan batin ya.
I Love U.

Untuk istri
Ayah menyadari sepenuhnya masih banyak
mimpi kita yang belum bisa diwujudkan.
Ramadhan tahun ini semoga kembali
menghadirkan kebahagiaan ke rumah kita.
Selamat beribadah puasa ya Bu,
jangan bosan bangunkan tidur ayah saat sahur.
Mohon maaf lahir dan bathin.
1000 Kisses, Ayah.

Update 9 September 2007. Ada kata-kata ucapan yang bagus dari blognya Trian, berikut beberapa kutipannya:

Dalam kerendahan hati ada ketinggian budi.
Dalam kemiskinan harta ada kekayaan jiwa.
Hidup ini terasa indah jika ada maaf.
Taqabalallahu Minna Waminkum…

Pergilah keluh, ku tak mau berteman dengamu
Silahkan kesah, kau bukan takdirku
Mujahadah adalah temanku, dakwah adalah nafasku,
dan Allah adalah kasihku.
Maafkan segala kesalahan.

Dibawah ini citra yang sangat bagus dari almascatie.

Lampirkan citra ucapan lebaran seperti dibawah ini di e-mail Anda. Koleksi gambar lain bisa dilihat disini.


——–
Tulisan Terkait : Indosat GPRS | Mobile Internet | Gambar Attachment E-Mail Ucapan Lebaran | Ponsel Sekelas Laptop dengan Morange | Income 89 Dolar Hanya dalam 1 Hari

Iklan

Koneksi Internet Indosat GPRS dengan Perhitungan Durasi Agustus 20, 2007

Posted by IrwanKarta in Fun & Gadget, Science & Computer.
124 comments

Pulsa jebol karena internetan memakai GPRS dengan hitungan data per KiloByte? Coba alternatif koneksi internet GPRS memakai hitungan durasi/waktu. Memang tidak semurah apabila koneksi di warnet, namun apa yang lebih nyaman selain internetan di rumah atau dimana saja sesuka hati?

Tinggal pandai-pandainya memilih jenis koneksi, apabila hanya chatting dan download e-mail ke POP Mail Client mungkin lebih murah memakai hitungan per KB data. Namun apabila blogwalking dan download data dalam waktu yang tidak terlalu lama lebih baik pakai hitungan durasi.

Saya mencoba akses internet memakai Indosat GPRS dengan hitungan biaya berdasarkan durasi. Kartu GSM yang dipergunakan bisa Mentari atau M3.

Berikut langkah-langkahnya…

Aki Somad Sampai Hari Ini Belum Merdeka Agustus 17, 2007

Posted by IrwanKarta in Family & Friends, Our Topics.
2 comments

Sudah enambelas tahun saya tidak pernah berada di kampung halaman lebih dari 2 minggu. Setiap pulang hanya tinggal dua sampai tiga hari, paling lama sepuluh hari, itu juga belakangan setiap dua tahun sekali saat lebaran, karena harus selang seling satu tahun berlebaran di Jogja dan satu tahun berlebaran di kampung.

Maka saya sudah hampir lupa sosok Aki Somad. Kakek tua yang dulu waktu saya SD, setiap menjelang tengah hari selalu lewat di depan rumah. Setiap hari Aki Somad pulang dari kebunnya di lereng bukit sana, dengan memikul empat batang bambu berisi air nira.

Aki Somad adalah pembuat Gula Merah, pagi hari selepas sholat subuh sudah berangkat ke hutan untuk memasang potongan bambu (sunda=lodong) di puncak pohon Nira (sunda=kawung) untuk menampung tetesan nira. Setelah mengurus ladangnya yang tak seberapa luas, menjelang siang Aki Somad turun ke kampung sambil memikul nira.

Saya masih ingat, Aki Somad selalu numpang duduk melepas lelah di teras rumah kami. Dan tak pernah terlewat memberikan satu batang bambu berisi nira hasil jerih payahnya untuk keluarga kami. Niranya sangat manis dan segar diminum siang saat panas terik, Dan Aki Somad akan sangat kecewa apabila kami menolak pemberiannya.

Kami sangat kasihan padanya, dia sudah renta, tiga batang bambu berisi nira — setelah satu batang diberikan untuk kami — hanya menghasilkan sedikit gula setiap harinya. Namun Aki Somad selalu menjalani hidupnya dengan suka cita dan sederhana. Di rumahnya yang sempit ditemani Nini Irah, nenek yang wajahnya selalu bersinar dengan senyuman.

Aki Somad hidup dalam kemiskinan, tanpa seorang pun anak yang bisa membahagiakannya, paling tidak mengurusnya dikala hari tua. Di usianya yang sudah sangat tua Aki Somad masih bekerja keras untuk hidup. Lebaran tahun lalu, menurut Ibu saya, Aki Somad sudah sangat tua dan sakit-sakitan, namun masih pergi ke hutan mengambil nira.

Aki Somad adalah sahabat kakek saya, termasuk sahabat seperjuangan dulu. Menurut kakek, Aki Somad adalah pejuang yang pemberani, lihai bergerilya, dan berulang kali ditangkap Belanda dan disiksa. Aki Somad punya andil besar dalam kemerdekaan bangsa ini, namun dikala banyak rakyat yang menikmati kemerdekaan dan hasil perjuangan orang-orang seperti Aki Somad, Aki Somad sendiri masih berada dalam hidup yang serba kekurangan dan harus bersusah payah menjalani hidup dalam masa tuanya.

Piagam “Rumah Pejuang Kemerdekaan 45” dari pemerintah yang tertempel di dinding anyaman bambu rumahnya, tidak merubah apa-apa dalam hidupnya. Hari ini, saya tidak tahu apakah Aki Somad masih hidup atau tidak. Dan mungkin tak seorang pun peduli akan hal itu.